Visor untuk helm KBC

redto-black.web.id. Visor untuk helm KBC. Fungsi helm sangatlah penting untuk kita, sebagai pelindung dan untuk keamanan pengendara motor. Beberapa helm yang pernah saya pakai yang saya tulis disini rata-rata pernah mengalami kerusakan di bagian kaca/visornya dan pastinya sangat menganggu jika dipakai untuk berkandara, begitu pula dengan helm KBC milik saya dulu saat masih baru, air sangat mudah untuk mengalir tanpa menempel di visor saat hujan, seiring waktu penggunaan ternyata makin lama kemampuan visor ini hilang, kemungkinan karena lapisan coatingnya telah terkikis. Selain itu juga sudah banyak scratch dan baret-baret yang menyebabkan penglihatan terhalang dan kalau malam cahaya menjadi buyar apalagi kalau hujan, saya musti membuka visor agar pandangan menjadi jelas.

 

Visor untuk helm KBC. Untuk helm KBC ini termasuk helm langka di daerah saya, saya sudah mencoba mencari namun tidak memperolehnya. Kemudian saya bertanya ke group yang saya ikuti, dari situ saya mendapat dua referensi, dari juraganhelm.com dan satu lagi dari fjb kaskus. Dari fjb kaskus saya mendapat harga 175.ooo untuk visor reject, yang katanya hanya pinggiran visor yang tidak rata, dan 250.000 untuk harga originalnya. Dari juraganhelm.com saya mendapat harga 150.000 namun itu visor compatible (visor sebenarnya untuk helm HJC lorenzo) yang benar-benar sama persis dan plug and play untuk helm KBC, minusnya visor ini belum ada lubang untuk pinlock, namun tak apalah karena saya juga tidak berencana memasang pinlocknya. Jadinya saya ambil yang visor compatible ini.

Penampakan saat terpasang di helm.

Repaint Helm BMC & KBC

Repaint Helm BMC & KBC. Libur beberapa hari ini saya dirumah, semalem nginep di rumah orang tua, kakak pulang (niatnya pulang pengen diajak touring, tapi batal, trus manyun hahaha) sekalian ketemu dengan teman dari Bandung & Ciketing yang kebetulan lagi main ke daerah deket rumah saya, selagi libur agak lama dan helm tidak dipakai, saya mencoba untuk repaint sendiri helm merk KBC yang sudah lama menemani saya, kondisi busa masih ok, namun catnya sudah mengelupas, karena kebanyakan dijemur di lapangan parkir, kepanasan, kehujanan. Sebelum memulai proses mengecat saya lepas dulu  busanya, sekalian dicuci. Untuk memelepasnya cukup mudah busa kanan kiri dan alas kepala memang pada dasarnya bisa dilepas, hanya saja untuk foam tebal yang dibagian depan, kanan, kiri dan atas yang agak susah namun tetap bisa dilepas, setelah selesai melepas busa-busanya dilajutkan melepas visor dan ventilasinya.

Selesai bongkar kemudian saya amplas cat lamanya, menggunakan amplas halus sampai lapisan finishing terkelupas dengan sempurna, kurang lebih sampai 4 jam saya mengamplasnya. Setelah selesai diamplas, helm dicuci sampai bersih kemudian dikeringkan, selesai dikeringkan dimulai memberi warna dasar, saya menggunakan cat semprot samurai dengan warna grey, saya semprot 3 lapis dengan setiap lapisnya saya keringkan selama 30 menit, dijemur di terik matahari. Kemudian setelah warna dasarnya rata, saya lanjutkan dengan menyemprot warna utamanya yaitu black metalic

Untuk warna utama saya semprotkan 3 lapis juga sampai merata dengan pengeringan yang sama, setelah warna utama selesai dan sudah kering, kemudian saya memberi aksen warna silver di atas dan depan bagian dagu, hasilnya seperti ini

Visor sekalian saya ganti karena visor lama sudah banyak scratch dan baret-baret. Untuk yang BMC kurang lebih prosesnya sama, hanya saja untuk helm BMC saya saya beri warna hitam merah sekaligus untuk uji coba sebelum saya cat ulang KBC saya. Untuk hasilnya ya masih belum rapi, namun ini hasil kerja saya sendiri, ada kepuasan sendiri 😀

Review Kogan Actioncam [III]

Review Kogan Actioncam. Melanjutkan tulisan saya yang sempat tersela beberapa tulisan lainnya, untuk review kali ini saya akan menunjukkan mengenai hasil jepretan kogan action camera, baik gambar ataupun videonya.

Hasil Foto Outdoor tanpa wateproof case

Hasil Foto Outdoor dengan waterproof case

Hasil Foto Outdoor dengan waterproof case saat hujan

Hasil Foto Indoor

Hasil Video Tanpa Waterproof Case

 

Hasil Video Dengan Waterproof Case

Sekian review dari saya, untuk hasil record lainnya nanti akan saya muat ditulisan saya yang lain, kesimpulannya ada harga ada rupa, untuk budget minim kamera ini termasuk rekomen untuk record video, jangan dibandingkan dengan merk lainnya yang lebih pro… hehehe

 

Dieng, Another Part [V] end

Dieng. Ini tulisan kelima sambungan dari tulisan sebelumnya mengenai perjalanan kami ke Dieng. Setelah menjemur dan berjemur agak lama saya kemudian berkeliling mencari makan, meskipun dari penginapan sudah mendapatkan sarapan gratis berupa seporsi kecil nasi goreng dan teh panas, tapi itu terasa belum cukup bagi perut saya :D. Kemudian saya keluar dai penginapan mencari sarapan dan gorengan sambil ambil beberapa gambar penginapan untuk dibagikan dengan teman-teman saya yang berencana akan ke Dieng, dengan harapan bisa membantu mereka mencari informasi mengenai penginapan di Dieng, pagi itu saya membeli nasi bungkus dilengkapi sayur oseng tanpa lauk, karena saya lihat yang ada hanya ayam dan jeroan, sedangkan saya lagi program diet, mengurangi makanan berlemak terutama daging dan sejenisnya. Selesai mencari sarapan saya kembali ke penginapan, kemudian mandi air hangat. Pada saat mandi, ternyata Achmad dan Huda sudah kembali dari Sikunir. Selesai mandi kemudian saya sarapan nasi bungkus yang saya beli, sedangkan Huda & Achmad makan nasi goreng sarapan dari penginapan dilanjutkan keluar jajan, karena porsi nasi gorengnya hanya kecil, mini. Selesai sarapan, mandi dan beres-beres kami checkout dari penginapan, dilanjutkan menuju telaga warna. Meskipun saat ini sudah musim hujan, ternyata telaga warna malah mengering.

Spot ini dulu masih tergenang air terakhir kali saya kesini. Tujuan saya kesini sebenarnya ingin melihat telaga warna dari sisi lain, dari ketinggian di batu ratapan angin. Dari bawah kami harus naik melewati ratusan anak tangga, seperti yang saya duga, menguras tenaga dan membuat kaki kanan saya kembali terasa sakit, namun pelan-pelan kami tetap berjalan dan kadang diselingi istirahat sampai akhirnya saya hanya sanggup sampai di bawah batu rata saja.

Dari sini terlihat keindahan telaga warna dan telaga pengilon dari sisi lain, dari ketinggian

Abaikan gambar makhluk yang satu itu 😀

Puas ambil gambar, kamipun turun untuk lanjut pulang mampir ke Mie Ongklok Muhadi Wonosobo, tak lupa ambil gambar dulu

Kemudian sekitar pukul 11.30 kami sudah memasuki Wonosobo kota, mampir beli oleh-oleh lanjut mampir ke Mie Ongklok Muhadi untk makan siang dan istirahat sholat.

Seporsi Mie Ongklok tanpa sate menjadi pengisi perut untuk perjalanan pulang saya. Selesai makan dan sholat kami lanjut perjalanan pulang, sempat diguyur hujan selepas tanjakan Kretek, kemudian sampai di Temanggung kami sempat salah ambil belokan, yang harusnya ke kota Temanggung malah lurus jalan Kaloran, sampai di jalan raya Magelang Semarang kami bertiga terpisah, Huda dan Achmad lurus ke Ambarawa sedangkan saya belok kanan ke arah Banyu Biru, saya berhenti sebentar untuk sholat ashar dan mengabari mereka bahwa saya berbeda jalur dengan mereka. Alhamdulillah sekitar pukul 16.00 saya sampai di rumah dengan selamat bertemu kembali dengan keluarga.

Dieng, Another Part [IV]

Dieng. Tulisan saya yang keempat ini masih melanjutkan tulisan saya yang lalu, Minggu (13/12/15) pagi, sekitar jam 04.00 pagi alarm berbunyi kemudian menyusul adzan subuh berkumandang, kami bertiga bangun, Achmad & Huda bersiap untuk berburu sunrise di bukit Sikunir setelah selesai menunaikan ibadah sholat subuh, sedangkan saya memilih untuk tetap di penginapan, bukan karena malas atau bagaimana, tapi karena kondisi kaki kanan saya yang masih sering terasa sakit apabila dipakai untuk berjalan jauh dalam waktu lama yang menyebabkan saya memilih tidak ikut mendaki ke bukit sikunir. Sambil menunggu matahari terbit, saya mengecek handphone dan browsing kemudian saya keluar sebentar dari penginapan untuk mencoba Kawasaki KLX 150nya Huda, berkeliling kawasan dieng dan mencoba beberapa tikungan turun arah ke wonosobo sembari mencari panasnya mentari pagi.

Ambil foto dikit, kemudian lanjut berkeliling lagi

Pagi itu masih sepi, belum banyak terlihat warga beraktifitas, udara yang dingin dan sedikit kabut menyelimuti kawasan dieng

Kemudian mampir di kompleks candi arjuna, di parkiran candi setiyaki saya dihadapkan dengan padang rumput basah yang begitu indah dan sejuk

Selesai berkeliling saya kembali ke penginapan kemudian saya berberes-beres serta menjemur sepatu, riding pants, tas dan gloves saya yang basah, sambil berjemur diatas hotel, sama seperti setahun dulu.

Bersambung

USB Tethering atau Wi-Fi Hotspot?

Siapa sih yang sekarang tidak memakai internet? Sekarang jaman dimana internet menjadi kebutuhan pokok, dan bandwidth murah melimpah, akses internetpun mudah, tentunya pembaca semua juga sudah merasakannya kan? Dulu untuk menggunakan handphone sebagai modem atau share koneksin internet masih sangat susah, harus beli kabel data lah, harus install pc suite lah, dan masih banyak lagi, termasuk jaman dimana modem gsm booming, harus punya kartu khusus, harus maketin, beli kartu tersendiri. Berbeda dengan sekarang sekarang paket data mudah didapatkan, teknologi handphone pun sudah berkembang, dulu saya ketika memakai handphone Nokia 5800 xm sudah terbiasa menggunakan handphone saya untuk share koneksi internet dengan laptop, baik memakai bluetooth ataupun kabel data USB. Sekarang saya menggunakan ASUS Zenfone 4 pemberian istri saya untuk keperluan online ataupun akses media sosial. Dengan dukungan OS Android sekarang share koneksi internet lebih mudah, defaultnya Android memiliki fasilitas tethering baik menggunakan USB ataupun Wi-Fi, awalnya saya sering menggunakan Wi-Fi hotspot untuk share koneksi internet saya, namun akhir-akhir ini sering masalah kadang-kadang putus sendiri koneksinya, selain itu dulu ketikan hotspotnya saya setting menggunakan password saya sering mengalam kesulitan, dan ternyata tidak hanya saya alami di ASUS saja di Lenovo istri saya juga sama, di Samsung punya teman saya pun sama. Dan minusnya ketika kita memakai Wi-Fi hotspot handphone jadi cepat habis baterainya dan kalau harus sambil dicharge handphone bisa overheat, namun disisi lain kita bisa share koneksi internet dengan banyak orang sekaligus, berbeda dengan USB tethering yang hanya bisa dipakai oleh 1 device saja namun saat mengunakan USB tethering handphone kita bisa sambil ngecharge dan handphone pun tidak cepat panas, dan ini yang sekarang menjadi pilihan saya, pilihan anda?

Dieng, Another Part [III]

Dieng. Kembali melanjutkan cerita saya bersama rekan-rekan touring ke Dieng, Sabtu malam (12/12/15) selepas sholat maghrib berjamaah kami istirahat sebentar di penginapan lalu keluar jalan kaki mencari makan malam. Kami bertiga terlihat seperti orang aneh di Dieng, dikarenakan penduduk setempat hampir semua mengenakan jaket dan celana panjang saat keluar, sedangkan kami hanya memakai celana pendek dan baju kaos serta menenteng sarung, kami berjalan sampai di pertigaan Dieng, yang setahun lalu masih berupa barisan toko souvenir & warung makan sekarang berubah menjadi tugu/monumen atau apalah ini namanya

Selamat datang di Dieng

Selesai jalan-jalan, kami memutuskan untuk mampir ke angkringan, angkringan yang bertuliskan asli Jogja, meskipun pemiliknya asli Wonosobo bukan dari Jogja, angkringan ini menurut pemiliknya pak Kadi diberi nama pengunjungnya angkringan JLB yang bisa diartikan macam-macam, Jangan Lupa Bahagia, Jangan Lupa Bayar, Jangan Lupa Balik dan sebagainya.

Angkringan JLB Pak Kadi

Di angkringan ini kami mendapat cerita dari pak Kadi dan istrinya mengenai keberadaan pertapa Dieng, seorang laki-laki yang sudah selama 26 tahun tinggal di dataran tinggi Dieng tanpa pernah keluar dari tempat pertapaanya, digambarkan oleh pak Kadi bahwa pertapa ini memiliki wajah yang bersih rambut gimbal yang panjang serta berjenggot panjang, tempat pertapaannya berada di pinggir jalan, sekarang berupa tenda kotak kecil yang berwarna biru tua lokasinya dekat dengan polsek Dieng. Banyak cerita tentang pertapa ini yang disampaikan oleh pak Kadi, cerita yang berbau mistis, keajaiban dan sebagainya, oh ya bagi rekan-rekan yang mau berkunjung ke Dieng dan membutuhkan penginapan bisa menghubungi pak Kadi di 082-323-804605 beliau bercerita bahwa memiliki rumah yang siap disewa, dengan dua kamar dan ruang tamu yang dilengkapi tungku perapian dengan tarif yang boleh dibilang lumayan murah, kecuali apabila ada event tertentu di Dieng, karena apabila ada event pasti semua penginapan naik harganya, beliau juga memperbolehkan siapa saja untuk menginap di rumahnya dengan gratis apabila benar-benar tidak punya uang. Tak terasa empat nasi kucing dan segelas teh panas telah saya habiskan sembari mendengar cerita dari pak Kadi. Untuk lokasi angkringan ini tak jauh dari lokasi pertapa dieng tadi, apabila pembaca ingin bertemu dengan pak Kadi dan mendengar cerita lebih banyak mengenai pertapa dieng.

Selesai makan malam, kami kembali ke penginapan, lajut istirahat, rencana esok pagi Huda & Achmad akan melihat sunrise di Sikunir.

Bersambung

Dieng, Another Part [II]

Dieng. Kembali melajutkan tulisan saya yang pertama, setelah selesai sholat Dzuhur & makan siang, kami kembali ke penginapan, sambil memikirkan akan nekad jalan jalan atau tiduran di penginapan, pilihan kedua terdengar sangat merugikan… hehehe, masa iya sudah sampai Dieng hanya tiduran? dan akhirnya kamu putuskan untuk naked, eh nekad jalan-jalan dengan menggunakan jas hujan. Selesai mengenakan jas hujan kami pun mulai berkkendara, kali ini saya berboncengan dengan Achmad menggunakan redtoblack saya dan Huda mengendarai KLXnya. Keluar dari penginapan menuju arah komplek candi arjuna kami dihadapkan dengan jalan aspal yang penuh tanah, dulu terakhir kesini juga masih sama kondisinya, hanya saja dulu kering sekarang basah, dilokasi ini saya agak meleng melihat ke arah kiri dan tiba-tiba saja gubrak… ban depan terpeleset dan kami jatuh, kaki kiri saya tertimpa motor dan Achmad meluncur bebas diatas saya, kejadiannya begitu cepat sampai saya lupa sebenarnya seperti apa dan penyebabnya apa kami terjatuh, Alhamdulilah karena full gear kami tidak cidera sama sekali, hanya saja stang redtoblack sedikit kenger, sempat berhenti sebentar di parkiran candi arjuna kami membetulkan stang lalu lajut lagi ke kawah sikidang. Di loket masuk kami membayar tiket sebesar 10.000 perorang yang bisa digunakan untuk masuk ke kawah sikidang & komplek candi arjuna. Berhubung masih hujan, saya ambil gambar menggunakan Kogan actioncam yang dilengkapi dengan waterproff case, dan hasil gambarnya seperti berikut, hehehe

Kawah Sikidang Dieng
Foto Modelnya
Kawah Sikidang Dieng

Selesai berkeliling kami keluar dari kawah sikidang menuju kompleks candi arjuna, dan karena hujan yang mengguyur obyek wisata ini sangat sepi, bahkan ketika kami masuk hanya ada kami bertiga di dalam komplek candi

Selesai berkeliling kamipun kembali ke penginapan, dan ceritapun akan berlanjut lagi [bersambung]

Baca juga :

Dieng, Another Part [I]

Dieng another part. Dieng, pastinya sudah kenal kan? atau malah sudah sering berkunjung kesana? ya, ini kali ketiga saya mengunjungi Dieng, yang pertama bersama istri saya, yang saya tulis Trip to Dieng Plateu dan yang kedua bersamaan dengan kopdar dan touring perdana Jatengmotoblog yang saya tulis Kopdar Touring Perdana Jatengmotoblog. Kemarin, 12 – 13 Desember 2015 saya bersama dua rekan saya pergi ke Dieng, rencana ini sudah beberapa waktu lalu kami bahas dan sempat sekali tertunda karena kodisi kesehatan saya yang kurang fit selain itu salah seorang rekan saya juga tidak bisa ikut, jadinya kami undur yang awalnya tanggal 5 Desember menjadi tanggal 12 Desember. Berangkat dari Boyolali sekitar pukul 07.00 pagi saya menunggu rekan saya Achmad dari Solo, kurang lebih menunggu 15 menit Achmad akhirnya datang di titik kumpul pertama, sementara di titik kumpul ke dua Huda sudah mengunggu juga. Dua rekan saya ini adalah orang yang sama yang pernah riding bersama saya ke gunung api purba dan mampir menyantap duren di warung duren Pak Gito yang saya ceritakan Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran, Pak Gito. Sekitar pukul 07.30 kami berangkat dari Boyolali, melewati jalur yang hampir sama dengan jalur yang saya tempuh bersama adik saya pada saat menghadiri touring perdana Jatengmotoblog pada Agustus 2014 silam, hanya saja sedikit berbeda karena saya salah ambil arah ketika sampai di perempatan Grabag, namun tak apalah karena akhirnya kami juga sampai di Temanggung sesuai jalurnya. Untuk perjalanan berangkat saya sempat salah ambil jalur lagi selepas Temanggung, yang harusnya lurus arah Parakan saya malah belok kiri (efek libur riding beberapa waktu, membuat naluri supirnya berkurang… hehehe). Sampai di Kretek kami begitu menikmati perjalanan, tanpa banyak menemui macet hanya udara dingin saja yang tiba-tiba menusuk saat melewati daerah Kledung, setelah keluar dari Kretek ke arah Wonosobo kami berhenti sebentar karena CB150R Achmad tiba-tiba ngeloss rem belakangnya, mungkin efek karena kebanyakan ngerem pasalnya jalur yang kami lewati banyak turunan dan tikungan. Setelah istirahat sebentar kondisi rem kembali normal dan kami melanjutkan perjalanan, sampai di jalan Dieng tiba-tiba hujan turun mengguyur, kami berhenti untuk memakai jas hujan dan kembali melanjutkan perjalanan dan mampir di gardu pandang Tieng kurang lebih pukul 11.30 kami sampai di Tieng. Sambil istirahat sebentar dan melepas jas hujan, karena hujan sudah reda.

Gardu Pandang Tieng

Setelah istirahat dan ambil foto sebentar, kami melanjutkan naik.

Dua rekan saya, yang kiri kaya orang gila itu (hahaha :v ) Achmad dan yang kanan Huda.

Kembali berhenti di gapura Dieng

Achmad – Huda – Saya
Me & Redtoblack – Welcome to Dieng

Selesai ambi gambar kami melanjutkan naik untuk mencari penginapan dan istirahat sebentar sebelum lanjut muter-muter Dieng. Untuk penginapan saya langsung menuju hotel gunung mas yang dulu sempat saya pakai bermalam bersama adik saya, dan ternyata masih ada kamar kosong, saya memilih tipe standart untuk bertiga, didalamnya ada satu double bed dan satu single bed,  lemarin dan meja serta kamar mandi di dalam dengan shower air hangat serta sarapan pagi dengan tarifnya 250.000 permalam. Selesai check in kami memasukkan barang-barang yang bisa ditinggal, kemudian ke masjid yang ada di belakang hotel untuk menunaikan Sholat Dzuhur dilanjutkan mencari makan siang, dan kurang beruntungnya hujan kembali mengguyur…. [bersambung]

Baca Juga :

Review Kogan Actioncam [II]

Review Kogan Action Camera. Melanjutkan Review Kogan Actioncam I, setelah kemarin menampilkan paket penjualan dari Kogan Actioncam dan wujudnya, kali ini saya akan membahas isi dan cara pemakaiannya, Kogan Actioncam ini cukup simple hanya ada 4 tombol untuk mengoperasikannya, yang pertama yaitu tombol power dan mode

Tombol Power & Mode Selector Kogan Actioncam

Yang kedua tombol OK/Select

Tombol OK Kogan Actioncam

Disamping tombol OK ada lampu indikator akan menyala warna orange jika kamera menyala.

Berikutnya yang ketiga dan keempat adalah tombol up & down untuk memilih/menggeser menu.

Tombol Up & Down Kogan Actioncam

Kogan Actioncam ini memiliki port interface micro USB untuk mengisi daya ataupun sebagai media koneksi ke komputer. Selain itu tersedia satu port mini HDMI untuk displayna, dan satu slot micro sd untuk storage atau penyimpanannya.

Port & Slot yang dimiliki Kogan Actioncam

Untuk displaynya kogan actioncam menggunakan lcd kecil yang memuat informasi seperti gambar berikut

Display Kogan Actioncam

Review Kogan Action Camera. Sekian dulu, untuk review pemakaian dan hasilnya akan saya sampaikan ditulisan saya yang lain 😀 bersambung …

Review Kogan Actioncam [I]

Review Kogan Actioncam. Kali ini saya akan memberikan sedikit review tentang Kogan actioncam yang saya beli dari salah satu online shop terbesar di Indonesia Lazada, link detailnya ini. Kogan actioncam ini termasuk tipe yang murah meriah dengan kelengkapan yang lumayan lengkap. Untuk paket pembeliannya kurang lebih berisi seperti berikut :

Kogan actioncam & charger

Kogan Actioncam

Bermacam Mounting & Manual book

Kogan Actioncam
Kogan Actioncam

Waterproof case :

waterproof case

Detail penampakan Kogan actioncam seperti berikut :

Cukup sekian dulu, bersambung ke artikel berikutnya 😀